aldiunanto.com

Strategi Jitu Mengkomunikasikan Perubahan Tipe Asuransi Dalam Sebuah Perusahaan

Halo readers! materi TOU kali ini akan membahas kendala operasional di sebuh perusahaan dimana perusahaan tersebut memiliki karyawan berjumlah 200 orang dan sedang mengalami kesulitan keuangan, Salah satu komponen biaya terbesar operasional hariannya adalah asuransi kesehatan karyawan. Perusahaan tersebut berencana merubah asuransi kesehatan karyawannya yang semula menggunakan managed care menjadi indemnity care.

Mari kita review apakah keputusan tersebut sudah benar? Tetapi sebelum kita review mengenai benar atau tidaknya keputusan tersebut ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu detail dari managed care dan indemnity tersebut.

 

Managed Care

Managed Care adalah salah satu jenis produk asuransi kesehatan yang mengintegrasikan pembiayaan dan penyediaan perawatan kesehatan dalam suatu sistem yang mengelola biaya, memberikan kemudahan akses pada seluruh pesertanya sehingga pembiayaan tersebut menjadi efisien dan efektif / tepat sasaran. Tentu saja tanpa meninggalkan standar pelayanan medis yang berlaku.

Organisasi managed care mempunyai ciri-ciri :

  1. Menjalin kontrak dengan penyedia pelayanan kesehatan (PPK)
  2. Metode pembayaran fasilitas kesehatan
    Menurut Liu & Mills (2007), metode pembayaran PPK yang ideal hendaknya mampu mendorong ke arah kendali biaya, jaminan mutu dan efisiensi internal. Selain itu disertai dengan tidak memberikan insentif kepada PPK yang memberikan pelayanan berlebihan atau bahkan sebaliknya dibawah standar.
  3. Utilization review
    Utilization review
    merupakan suatu metode untuk menjamin mutu pelayanan terkait penghematan biaya. Mekanisme pengendalian biaya utilization review dengan memeriksa apakah pelayanan secara medis perlu diberikan dan apakah pelayanan diberikan secara tepat.
  4. Standarisasi pelayanan
    Upaya pelayanan kesehatan untuk melakukan kendali biaya sekaligus kendali mutu adalah dengan menerapkan suatu standarisasi pelayanan.
  1. Pelayanan berjenjang
  2. Kendali Mutu
    Perusahaan asuransi, pembayar dan penanggung biaya layanan kesehatan memiliki persepsi yang berbeda tentang layanan kesehatan yang bermutu. Bagi suatu penjamin biaya layanan kesehatan, layanan kesehatan yang bermutu adalah layanan yang efisien dan dapat memberikan kepuasan kepada pasien. Sedangkan pengertian mutu secara luas dan komprehensif dari Cosby (1984), Donabedian (1980) dan Zeithaml e al (1990) adalah sejauh mana realisasi layanan kesehatan yang diberikan sesuai dengan kriteria dan standar profesional medis terkini dan baik yang sekaligus telah memenuhi atau bahkan melebihi kebutuhan dan keinginan pelanggan dengan tingkat efisiensi yang optimal (Mukti, 2007).
  3. Program jaminan mutu dan kesesuaian ganti rugi dengan jasa dokter dan rumah sakit (Health Insurance Association of America, 2008a).

 

Dalam Managed care, umumnya layanan yang diberikan bersifat komprehensif, sehingga paling tidak mencakup pelayanan-pelayanan sebagai berikut:

  1. Pelayanan Tingkat Primer
  • Rawat jalan oleh dokter umum / keluarga, dokter gigi, bidan praktek, klinik dan puskesmas
  1. Pelayanan Tingkat Sekunder
  • Rawat jalan spesialistik di klinik spesialis, dokter praktek spesialis atau rumah sakit
  1. Pelayanan Tingkat Tersier
  • Rawat inap spesialistik di rumah sakit
  1. Upaya promotif
  • Penyuluhan kesehatan
  • Perbaikan gizi
  1. Preventif
  • Imunisasi
  • Kesehatan lingkungan
  • Kesehatan ibu dan anak
  • Keluarga berencana
  1. Kuratif
  • Pengobatan dan penyembuhan penyakit
  1. Rehabilitatif
  • Pemulihan cacat dll
  1. Gawat darurat
  2. Pelayanan penunjang diagnostic (laboratorium, radiology, dsb)

 

 

Indemnity Care

Dari konsep indemnity ini dapat, dikatakan bahwa sasaran asuransi adalah untuk memberikan kompensasi keuangan yang pas bagi tertanggung dan secara implisit tertanggung tidak dapat menerima kompensasi lebih dari yang nilai kerugian yang dialami , tidak berhak menerima keuntungan dari kerugian yang terjadi.
Pernyataan ini sangat ditegaskan dalam polis – polis non-life yang beroperasi sebagai kontrak indemnity sebagai mana diputuskan oleh hakim Brett L.J dalam kasus hukum Castellain v. Preston (1883). Dalam kontrak asuransi, indemnity dapat diartikan sebagai kompensasi finansiil yang pasti yang cukup menempatkan tertanggung dalam posisi keuangan tertanggung sesudah kerugian sebagaimana yang ia alami segera sebelum peristiwanya terjadi.

Kata indemnity secara literal berarti menyelamatkan dari kerugian dan untuk istilah dari asuransi melindungi atau mengamankan dari kerusakan atau kehilangan. Dengan demikian indemnity di maksud untuk memberikan kompensasi keuangan atas kerugian yang di derita oleh tertanggung dan menempatkan mereka ke posisi yang sama setelah kejadian sebagaimana di miliki sebelumnya.

 

Dari pembahasan di atas setidak nya kita telah memiliki gambaran seperti apa dan apakah  managed care dan indemnity care. Disini kita akan perjelas lagi apa sebenarnya perbedaan antara managed care dan indemnity care serta kelebihan dan kekurangan nya.

 

Perbedaan Managed Care dan Indemnity Care

Dalam asuransi kesehatan di dapatkan dua kelompok besar, yaitu kelompok  indemnity (indemnity plans atau disebut juga reimbursement plans) dan kelompok managed care (managed care plans). Pada Indemnity, pihak asuransi memberikan kebebasan kepada peserta untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di provider (dokter, klinik, rumah sakit) manapun, tanpa memberikan perhatian lebih kepada kualitas pelayanan yang diberikan oleh provider. Selanjutnya, setelah mendapatkan pelayanan, peserta akan melakukan klaim kepada perusahaan asuransi, untuk mendapatkan nilai ganti. Namun peserta akan mendapatkan beberapa pembatasan, misalnya setiap tahun perusahaan asuransi hanya mengganti biaya akomodasi rawat inap hanya untuk 90 hari.  Penggantian biaya untuk tindakan diberikan plafon maksimal. Peserta masih dikenakan deduktibel, ataupun co-payment. Sedangkan sistem managed care akan menyediakan layanan menyeluruh sesuai kebutuhan medis, pola rujukan terstruktur dan berjenjang oleh provider (Pemberi Pelayanan Kesehatan/PPK) yang terseleksi. Keduanya tentu mengintegrasikan sistem pelayanan kesehatan dan sistem pembiayaan.

Bedanya dengan asuransi kesehatan managed care, indeminity lebih mengacu kepada sistem pembiayaannya saja, bukan kepada sistem pelayanannya. Misalnya, peserta dapat berobat ke provider mana saja, yang penting penggantian biayanya tidak melebihi ketentuan. Penggantian biaya rawat inap tidak lebih dari satu juta sehari, namun dalam satu tahun tidak boleh lebih dari 90 hari salah satu yang diatur dalam  managed care adalah pola tarif, bagaimana pola tarif yang baik sehingga mampu menjadi alat kendali biaya pelayanan kesehatan, namun pelayanan yang diberikan kepada peserta tetap berkualitas.

 

Kelebihan dan Kekurangan

Segala sesuatu selalu memiliki kelebihan dan kekurangan begitu pula dengan 2 produk asuransi ini. Berikut akan kita paparkan kelebihan dan kekurangan dari masing – masing produk asuransi di atas.

Managed Care

Asuransi jenis ini bisa dikatakan sebagai asuransi cashless karena memang yang bersangkutan tidak perlu membayar di muka untuk mendapatkan perawatan.

  • Namun, untuk mendapatkan perawatan dari asuransi jenis ini, kita harus mengetahui persis dokter dan rumah sakit rujukan yang diberikan. Sebab, hanya di rumah sakit yang sudah jadi rekanan, kita akan mendapatkan pelayanan cashless. Untuk itu, sangat dianjurkan, untuk membaca berbagai syarat dan ketentuan yang berlaku di rumah sakit yang dijadikan rujukan.
  • Selain itu, kita juga harus tahu persis, di mana dokter dan rumah sakit yang masuk dalam daftar rujukan. Sehingga, ketika sakit atau harus dirawat mendadak, kita langsung tahu ke mana harus menuju.
  • Kelebihan asuransi dengan konsep managed care adalah luasnya pertanggungan yang di berikan dan mudahnya pengurusan serta fleksibelnya premi yang di bayarkan.
  • Kelemahan Produk managed care adalah kurang puasnya peserta dalam pelayanan karena dikendalikan oleh rumah sakit melalui seleksi perusahaan asuransi dengan alasan berbagi resiko antara provider dengan perusahaan asuransi  serta Pelayanan dari perusahaan asuransi yang kompleks.
  • Kekurangan asuransi jenis ini biasanya harga preminya cenderung lebih mahal.

 

Indemnity Care

Asuransi ini dikenal oleh masyarakat kita dengan asuransi dengan model reimburse alias bayar di depan dan klaim di belakang.

  • Keuntungan yang diberikan jenis asuransi ini adalah kebebasan kita untuk memilih dokter dan rumah sakit, tanpa harus terikat pada daftar rumah sakit rujukan. Dan, kita pun bisa berganti dokter atau rumah sakit jika dirasa kurang cocok dengan perawatan yang diberikan. Dengan begitu, saat-saat kritis, kita tidak perlu repot mencari rumah sakit rujukan sehingga pasien pun bisa lebih cepat ditangani.
  • Dengan membayar premi bulanan atau tahunan, kita bisa menentukan berapa biaya yang diganti oleh perusahaan asuransi. Karena itu, biasanya, makin besar premi yang dibayar, keuntungan yang diperoleh pun lebih banyak.
  • Kekurangan asuransi jenis ini adalah kita harus membayar terlebih dahulu, baru bisa mengklaim uang penggantinya. Dan, biasanya, ada batasan tertentu senilai perjanjian yang tertera. Sehingga, jika melebihi batas, kita tidak akan mendapatkan pengganti.
  • Untuk perusahaan asuransi mereka lebih senang menjual produk indemnity salah satunya indemnity adalah produk komoditas yang hampir tidak ada perbedaan satu perusahaan dengan perusahaan lainnya.

 

Setelah mengetahui secara detail apa itu managed care dan indemnity care serta kelebihan dan kekurangan nya. Saat nya kita review contoh kasus  di atas berdasarkan teori pengambilan keputsan apakah sudah benar pilihan untuk merubah managed care ke Indemnity care.

 

 

LANGKAH-LANGKAH PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Secara umum, pengertian pengambilan keputusan telah dikemukakan oleh banyak ahli, diantaranya adalah :

  1. G. R. Terry : Mengemukakan bahwa pengambilan keputusan adalah sebagai pemilihan yang didasarkan kriteria tertentu atas dua atau lebih alternatif yang mungkin.
  2. Claude S. Goerge, Jr : Mengatakan proses pengambilan keputusan itu dikerjakan oleh kebanyakan manajer berupa suatu kesadaran, kegiatan pemikiran yang termasuk pertimbangan, penilaian dan pemilihan diantara sejumlah alternatif.
  3. Horold dan Cyril ODonnell : Mereka mengatakan bahwa pengambilan keputusan adalah pemilihan diantara alternatif mengenai suatu cara bertindak yaitu inti dari perencanaan, suatu rencana tidak dapat dikatakan tidak ada jika tidak ada keputusan, suatu sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat.
  4. P. Siagian : Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan sistematis terhadap suatu masalah, pengumpulan fakta dan data, penelitian yang matang atas alternatif dan tindakan.

 

 

 

JENIS KEPUTUSAN

Berdasarkan kasus yang ada, menurut Herbert Simon (ahli manajemen pemenang Nobel dari Carneige-Mellon University) jenis keputusan yang akan dibuat ini masuk ke dalam tipe keputusan tidak terprogram. Karena jika dilihat dari masalah awal, kasus ini masuk ke dalam kategori kasus yang baru dan belum pernah distrukturkan, serta jarang konsekuen.

Tidak ada prosedur yang pasti dalam menangani masalah tersebut, baik karena belum pernah ditemukan situasi  yang sama sebelumnya atau karena bersifat sangat kompleks atau sangat penting.

 

 

PENETAPAN PRIORITAS

Setiap proses pengambilan keputusan dan implementasi pemecahan yang diambil memerlukan sumber daya organisasi. Kecuali jika organisasi memiliki sumber daya yang tak terbatas, kita perlu menetapkan prioritas untuk mengatasi masalah-masalah yang ada. Dengan kata lain, kita harus menetapkan tingkat signifikansi dari suatu masalah. Untuk menetapkan tinkgat signifikansi kita perlu membertimbangkan tiga hal :

  1. Urgensi
    Berhubungan dengan waktu, seberapa kritiskah sebuah tenggat waktu? Dalam kasus ini seberapa kritiskah pemindahan tipe asuransi managed care ke indemnity care diperlukan?
  2. Dampak
    Seberapa seriuskah masalah tersebut? Dampak di sini bisa berupa orang, penjulan, peralatan, keuntungan, kesan publik, atau dampak terhadap sumber daya organisasi lain. Tentunya dalam pemindahan tipe asuransi yang dilakukan oleh perusahaan memiliki dampak langsung terhadap orang, dan keuntungan perusahaan itu sendiri. Dampak orang di sini adalah akankah karyawan merasa keberatan atau memiliki hambatan lain dengan digantinya tipe asuransi dari managed care ke indemnity care. Tentunya akan ada tindak lanjut untuk menangani permasalahan ini, yang merupakan feedback penting bagi perusahaan atau manajer-manajer dan direksi. Selain itu keuntungan bagi perusahaan juga akan dirasakan karena telah berkurangnya beban yang lebih berat ketika penerapan tipe asuransi managed care.
  3. Growth tendency (Kecenderungan pertumbuhan)
    Adalah pertimbangan dimasa mendatang di mana dalam posisi telah diterapkannya tipe asuransi indemnity care. Meskipun masalah ini memiliki tingkat urgensi dan dampak yang kecil, jika dibiarkan masalah kecil itu dapat berkembang lebih parah. Keputusan mengganti tipe asuransi managed care ke indemnity care sebagai upaya pemangkasan biaya (cost-cutting) mungkin tidak menimbulkan masalah dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang dapat menimbulkan permasalahan yang sulit.
    Semakin signifikan sebuah masalah, diukur dari urgensi, dampak, dan growth tendency-nya, masalah ini semakin penting diselesaikan secepatnya.

 

 

Proses pengambilan keputusan sendiri memiliki berapa tahap :

Tahap 1 : Pemahaman dan Perumusan Masalah. Dikatakan sebuah perusahaan memiliki masalah keuangan yang salah satu komponen biaya terbesar operasional hariannya adalah asuransi kesehatan karyawan.

Tahap 2 : Pengumpulan dan Analisis Data yang Relevan. Setelah manajer menemukan dan merumuskan masalah, manajer harus memutuskan langkah-langkah selanjutnya. Manajer pertama kali harus menentukan data-data apa yang dibutuhkan untuk membuat keputusan yang tepat dan kemudiaan mendapatkan informasi tersebut.

Tahap 3 : Pegembangan Alternatif-Alternatif. Kecenderungan untuk menerima alternatif keputusan pertama yang feasibel sering menghindarkan manager dari pencapaian penyelesaian yang terbaik untuk masalah manajer.Pengembangan sejumlah alternatif memungkinkan manajer menolak kecenderungan untuk membuat keputusan terlalu cepat dan membuat keputusan yang efektif. Manager harus memilih suatu alternatif yang cukup baik, walaupun bukan sesuatu yang sempurna atau ideal.

Tahap 4 : Evaluasi Alternatif-Alternatif. Setelah manajer mengembangkan sekumpulan alternatif, manager harus mengevaluasi sekumpulan alternatif, manager harus mengevaluasi untuk menilai efektifitas etiap alternatif.

Tahap 5 : Pemilihan alternatif terbaik. Pembuatan keputusan merupakan hasil evaluasi berbagai alternatif. Alternatif terpilih didasarkan pada jumlah informasi yang tepat dan dianggap terbaik dilihat dari segala aspek dan dampak yang dihasilkan.

Tahap 6: Implementasi Keputusan . Setelah alternatif terbaik dipilih, para manager harus membuat rencana untuk mengatasi berbagai permasalahan dam masalah yang mungkin dijumpai dalam penerapan keputusan. Dalam hal ini, manager perlu memperhatikan berbagai resiko dan ketidakpastian sebagai konsekuensi dibuatnya suatu keputusan. Disamping itu, pada tahap implementasi keputusan manager juga perlu menetapkan prosedur laporan kemajuan periodik dan mempersiapkan tindakan korektif bila masalah baru muncul dalam pembuatan keputusan, serta merancang peringatan dini untuk menghadapi berbagai kemungkinan.

Tahap 7: Evaluasi Hasil-Hasil. Keputusan. Implementasi keputusan harus selalu dimonitor. Manajer harus meangevaluasi apakah implementasi dilakukan dengan lancar dan keputusan memberikan hasil yang diinginkan. Biasanya dilakukan pengukuran hasil secara periodic. Jika terjadi perbedaan terhadap hasil yang dicapai dengan hasil yang direncanakan, jika terjadi perbedaan maka harus dilakukan perubahan terhadap solusi yang dipilih, implementasinya, atau mungkin penilaian apakah memang tujuan awal perlu direvisi, keseluruhan proses pengambilan keputusan harus dilakukan kembali.
Poin pentingnya adalah bahwa setelah sebuah keputusan diimplementasikan, seorang manajer tidak bisa berasumsi bahwa hasilnya akan selalu sesuai dengan target awal.harus ada sebuah sistem kontrol dan evaluasi untuk menilai bahwa hasil yang sebenarnya konsisten dengan hasil yang direncanakan ketika keputusan itu dibuat.

 

 

STRATEGI KOMUNIKASI

Menurut Jerald Greenberg, komunikasi itu adalah proses dari satu individu, kelompok atau organisasi(pengirim) menyampaikan informasi kepada pihak yang lain atau kepada individu, kelompok atau organisasi(penerima).

 

PROSES KOMUNIKASI

Terdapat 2 jenis komunikasi yaitu verbal@written dan non verbal communication. Contoh verbal@written communication adalah berbicara langsung, telepon, e-mail, memo, tv dan radio.

Contoh non verbal communication adalah gerak tubuh, pakaian, waktu, dan ruang. Karena perusahaan ini mempunyai struktur organisasi yang tidak terlalu besar maka verbal@written communication yang sesuai adalah berbicara secara langsung melalui pengumuman oleh pihak yang berwenang seperti manajer admin kepada karyawan. Email, memo, atau bulletin perusahaan kepada karyawan. Komunikasi akan menjadi paling efektif jika menggunakan berbagai saluran seperti lisan dan tulisan.
Email, memo, atau bulletin dapat menyampaikan garis besar informasi yaitu rencana perusahaan mengganti tipe asuransi dari Managed Care ke Indemnity Care. Sementara berbicara langsung dapat membuka ruang untuk penjelasan lebih lanjut dan mengapa keputusan ini harus dilakukan dan boleh menerima feedback secara langsung dari para karyawan. Gerak tubuh, waktu, dan ruang ketika menyampaikan informasi ini penting untuk mendapat feedback dan penerimaan yang baik dari karyawan.

Gestur penyampai informasi yang menyatakan bahwa walaupun terpaksa tetapi tindakan ini adalah yang terbaik untuk perusahaan. Ruang yang cukup besar untuk menampung jumlah karyawan berperan untuk kenyamanan dan mengurangi stres ketika karyawan menerima informasi. Waktu yang sesuai adalah dari pagi hingga siang dimana para karyawan masih “fresh”. Atau bisa juga penyampaian informasi dilakukan ketika seusai penerimaan gaji atau bonus agar karyawan tidak merasakan beban langsung dari perubahan ini. Pemilihan penyampai informasi dari segi jabatan@kewenangan dan gaya komunikasi individu juga penting untuk mencapai hasil yang maksimal.

Pakar komunikasi telah mengidentifikasikan 6 gaya komunikasi yang utama(31).

  1. The noble-Tidak menyaring apa yang dipikir tetapi langsung mengatakannya.
  2. The Socratic-Suka berdiskusi secara terperinci sebelum mengambil keputusan.
  3. The reflective-Tidak suka menyinggung perasaan orang dan pendengar yang baik
  4. The magistrate-Gabungan Noble dan Socratic
  5. The candidate-Gabungan Socratic dan reflective.
  6. The senator-Gabungan noble dan reflective.

 

Dari sini kita menyimpulkan bahwa penyampai informasi yang paling sesuai adalah dari level manajer admin dan mempunyai gaya komunikasi kandidat. Jenis kelamin penyampai juga berpengaruh dalam mendapat feedback yang baik. Penyampai perempuan akan lebih menunjukan rasa simpati bahwa kebijakan ini harus dilakukan meskipun pahit. Memilih penyampai yang mempunyai budaya yang sama dengan mayoritas karyawan. Contoh, jika mayoritas karyawan adalah sunda,maka dipilih orang sunda. Masalah lain dapat timbul apabila kata yang disampaikan oleh manajer dicerna dengan maksud yang berbeda oleh karyawan(36).

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan materi yang telah disampaikan di atas serta merujuk dari langkah-langkah mengambi keputusan, indemnity care adalah solusi untuk menyelamatkan masalah keuangan perusahaan karena dari segi biaya yang dikeluarkan dari perusahaan lebih sedikit tetapi tidak mengesampingkan kualitas. Strategi komunikasi yang paling sesuai digunakan untuk menyampaikan keputusan di atas adalah melalui media seperti berbicara langsung, email, memo, dan bulletin. Cara penyampaiannya adalah dengan memilih penyampai, waktu, dan ruang yang tepat. Selain itu bisa juga dengan mempromosikan kelebihan dari tipe asuransi Indemnity Care.

 

NOTES

  1. Mc Callister, L. (1994). “I wish I’d said that!” How to talk your way out of trouble and into success. New York. Wiley.
  2. Munter, M. (1993, May – June). Cross-cultural communication for managers. Bussines Horizons, pp. 75 – 76

 

REFERENSI

Leave a Reply

%d bloggers like this: